Krisis Pendidikan Moral Anak Mileial

Nama : Siroy Kurniawan
NIM    : 18202010018

Krisis Pendidikan Moral Anak Milenial
Waktu yang terus berputar mengakibatkan perkembangan teknologi semakin canggih. Kecanggihan teknologi ini dirasakan banyak masyarakat terutama di Indonesia. Namun disisi lain kecanggihan teknologi itu tidak hanya berdampak positif bagi pengguanya, melainkan berdampak negative. Kehidupan semakin modern mengakibatkan rusaknya moral terutama dikalangan generasi muda yang katanya penerus bangsa. Akhir-akhir ini tak dapat di pungkiri, maraknya beredar kasus pendidikan yang ada di Indonesia sungguh miris dan memilukan. Indonesia yang dikenal masyarakat berjiwa social tinggi, menjunjung tinggi nilai moral dan saling menghormati kini seakan rapuh dan runtuh.
Kasus didunia pendidikan yang dilakukan anak di bawah umur dan merupakan pelajar SMA dan SMP yang sangat mengawatirkan. Begitu rusak moral anak muda zaman sekarang yang tidak lagi mampu menghormati sosok pemberi ilmu, mengajarkan dari ketidak tahuan menjadi tahu, dari tak mengenal huruf hingga mampu membaca, bukan hanya peran orang tua yang menjadi sumber utama, melainkan sosok pahlawan tanpa tanda jasalah yang mendidik karakter hingga ia mampu sukses seperti apa yang di inginkan.
Namun sunggh miris prilaku moral generasi muda zaman sekarang. Berkaca dari pengertiannya  moral adalah prilaku seseorang yang bersifat positif. Namun nyatanya moral anak milenial sungguh memilukan. Seperti kasus yan sedang ramai di perbincangkan di media saat ini. Kasus mengenai seorang siswa  yang ditegur  guru agar tidak merokok di dalam kelas justru siswa tersebut menentang sang guru dan mengancamnya. Masih di kasus seputar krisis pendidikan moral  terjadi Kendal, seorang siswa bully guru, guru yang dikenal baik dan ramah ini di bully oleh siswanya sendiri saat sedang dalam proses mengajar, yang sangat di sayangkan kasus ini dinilai canda gurauan terang kepala sekolah usai di wawancarai oleh media. Kasus berikutnya terjadi di kota pelajar Yogyakarta, seorang siswa mendorong gurunya, kejadian ini terjadi karena siswa  membawa handpone dan memainkannya saat proses belajar, sehingga sang guru menyita handpone tersebut hingga terjadilah kegaduhan yang di lakukan seorang siswa terhada gurunya.
Dari kasus diatas, begitu miris, krisis dan daruratnya pendidikan moral di Indonesia. Kasus-kasus yang terkuak baru sebagian masih banyak kasus lain yang mungkin saja lebih parah. Namun yang jelas dari kasus diatas dapat menjadi perhatian khusus bagi institusi bidang pendidikan untuk membuat terobosan agar kasus-kasus semacam ini tidak terulang.
Dari kasus diatas juga menjadi perhatian khusus bahwa latar belakang siswa yang melakukan tidakkan tak bermoral berasal dari intitusi pendidikan umum. Sehingga pendidikan yang berjalan saat ini perlu di krtik. Pentingnya pemdidikan moral bagi siswa saat ini sangat diperlukan. Terutama dalam sebuah institusi pendidikan umum. Penulis memiliki pengalaman riwayat pendidikan yang berbeda dari menempuh pendidikan SD, SMP dan kemudian melanjutkan ke jenjang Maderasah Aliyah(MAN), menapatkan ilmu serta pelajaran yang berbeda. Ketika masih duduk di bangku SMP pelajaran-pelajaran sejenis didikan moral sangat kurang, pelajaran agamu hanya ada satu kali dalam seminggu dan berlansung selama satu jam proses belajar. Hal ini lah yang dirasa kurang bagi sekolah umum untuk melakukan didikan moral bagi para siswa. Jauh berbeda ketika masuk dunia Madrasah Aliyah sistem pelajaran keagamaan di utamkan, diawali solat duha berjamaah, pelajaran berbasis agama yang kuat, ekstrakulikuler sebagai penunjang kreativitas mahasiswa yang berbasis keagamaan pun kerap dilaksanakan. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa pendidikan keagamaan berhasil mencetak generasi insani yang berjiwa taat dan beriman mampu berbaur dengan masyarakat dengankeahlian dalam bidan praktek ibadah kemasyarakatan.
Minimnya institusi umum dalam mengajarkan pendidikan moral menjadi kelemahan tersendiri bagi pendidikan berbasis umum. Akibatnya, kejadian demi kejadian mencoreng dan memilukan dunia pendidikan di Indonesia kerap terjadi. Sebenarnya dari kasus diatas tidak semerta-merta menyalahkan intitusi pendidikan umum, melainkan sumber didikan utama adalah keluarga terutama orang tua. Sehingga peran orang tua sangat penting dalam mendidik dan membangun manusia terutama anak-anaknya untuk kemajuan bangsa.
Sekarang bukan lagi pemdidikan bermuatan moral kepada  siswa dan guru hanya sebatas retorika belaka tanpa adanya sistem yang diterapkan. Perlunya perhatian kusus dan membuat  regulasi jelas. Perhatian terhadap pendidikan harus menjadi perioritas jika ingin membangun bangsa. Agar pelajar Indonesia tidak hanya berwawasan luas namun memiliki sepiritual yang kuat dalam menjaga keimanan dan moralnya serta menjunjung tinggi budaya-budaya nusantara yang telah lama diajarkan nilai luhur kepada kita.  

Tulisan ini hanya sebagai renungan bagi kita atas peristiwa memilukan dalam dunia pendidikan yang baru-baru terjadi di Negeri kita saat ini, penulis juga mengharapkan adanya sebuah perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Selain itu tahun ini merupakan tahun demokrasi, inilah momentum yang dirasa tepat untuk menentukan siapa  calon presiden dan wakil presiden terpilih nantinya dan  mampu memberikan visi dan misi khusus untuk dunia pendidikan. Kita sama-sama berharap agar adanya tonggak estafet yang jelas agar bangsa ini mampu dipimpin oleh generasi yang tidak hanya berwawas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cegah Stress Politik Dengan Jujur Adil Dan Ikhlas